Seni dan Kebudayaan

Rahayu Solihin: Menyulap Daun Singkong Jadi Wayang, Raih Juara 1 dengan Sentuhan Kearifan Lokal Sunda

Dalam gelaran Jambore Ceria 2025 yang berlangsung pada 13 November 2025, sebuah nama berhasil menyita perhatian dan memancarkan kebanggaan budaya: Rahayu Solihin. Dengan kecerdasan, kreativitas, dan dedikasi yang mendalam terhadap warisan leluhur, Rahayu berhasil meraih Juara 1 dalam kategori lomba Kearifan Lokal. Prestasi gemilang ini ia raih melalui sebuah presentasi yang unik dan sarat makna, mengangkat khazanah “Kaulinan Barudak” (permainan anak-anak) Jawa Barat, dengan fokus pada seni membuat wayang dari daun singkong.

Merangkai Memori, Merawat Identitas

Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus permainan tradisional, Rahayu justru menggali dan menghidupkannya kembali. Pilihannya pada “Kaulinan Barudak” bukan sekadar nostalgia, tetapi sebuah pernyataan penting tentang pelestarian identitas budaya. Ia memahami bahwa dalam setiap helai daun singkong yang dibentuk, tersimpan cerita, filosofi, dan kepekaan estetika masyarakat Sunda yang telah terpupur selama berabad-abad.

Daun Singkong: Bukan Sekadar Sampah, Tapi Kanvas Cerita

Yang membuat karya Rahayu begitu istimewa adalah medium yang digunakannya: daun singkong. Bahan yang sering dianggap limbah atau sekadar pembungkus makanan, di tangan Rahayu berubah menjadi material seni yang lentur dan penuh karakter. Dengan ketelitian luar biasa, ia mendemonstrasikan proses menganyam, melipat, dan menyematkan daun-daun hijau itu menjadi sosok wayang yang memiliki jiwa—wayang golek miniatur, tokoh binatang, atau figur imajinatif khas dongeng Sunda.

Proses ini sendiri adalah sebuah pembelajaran multidimensi. Mulai dari pengetahuan ekologi (memanfaatkan sumber daya alam yang terbarukan), ketrampilan motorik halus, hingga nilai kesabaran dan ketekunan. Rahayu dengan piawai menjelaskan bahwa setiap torehan dan lipatan pada daun singkong mengajarkan tentang presisi dan rasa hormat pada bahan alam.

Wayang Daun: Jembatan Antara Generasi

Dalam presentasinya, Rahayu tidak hanya menunjukkan teknik pembuatan, tetapi juga membangun narasi yang kuat. Wayang-wayang daun singkong itu ia hidupkan dalam sebuah cerita pendek atau dolanan, menghubungkan fungsi wayang sebagai media bercerita dan alat permainan. Hal ini menyiratkan pesan mendalam: kebudayaan bukanlah benda mati untuk disimpan di museum, tapi sebuah praktik hidup yang bisa dinikmati dan relevan bagi anak-anak masa kini.

Dengan cara ini, ia berhasil menjadikan kearifan lokal bukan sebagai beban pelajaran, melainkan sebagai pengalaman belajar yang menarik, interaktif, dan menyenangkan (ceria, sesuai semangat Jambore). Ia membuktikan bahwa kita bisa belajar tentang karakter, kerja sama, dan sejarah melalui sebuah “kaulinan” yang sederhana namun penuh muatan filosofis.

Kemenangan yang Bermakna Lebih dari Sebuah Piala

Pencapaian Rahayu Solihin di Jambore Ceria 2025 adalah lebih dari sekadar kemenangan sebuah kompetisi. Ini adalah kemenangan budaya lokal di panggung nasional. Sebuah pengakuan bahwa kekayaan budaya daerah, seperti permainan tradisional Sunda, memiliki tempat yang sangat istimewa dan kontribusi yang bernilai bagi pendidikan karakter dan kreativitas generasi muda.

Prestasinya menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama generasi muda, untuk:

  1. Melihat ke sekitar: Kearifan dan bahan baku untuk berkreasi seringkali ada di lingkungan terdekat kita.
  2. Berani Berinovasi: Mengolah tradisi dengan cara baru tanpa menghilangkan esensinya.
  3. Bangga akan Akar Budaya: Membawa identitas daerah dengan percaya diri ke berbagai forum.

Penutup: Daun yang Menjadi Mahkota

Rahayu Solihin telah menunjukkan bahwa seorang anak muda dengan selembar daun singkong dan segudang ide bisa mengguncang panggung kompetisi. Ia tidak hanya membawa pulang piala Juara 1, tetapi juga membawa pulang sebuah pesan harapan: bahwa warisan budaya Jawa Barat tetap lestari bukan karena dijaga di dalam kotak, tetapi karena dimainkan, diceritakan ulang, dan dirayakan dalam sukacita oleh generasi penerusnya.

Selamat kepada Rahayu Solihin! Prestasimu adalah bukti bahwa “urang Sunda” dan budaya luhurnya tetap bersemi dengan cantik dan kreatif di tangan generasi muda. Semoga wayang daun singkongmu terus menginspirasi banyak anak lain untuk mencintai dan melestarikan Kaulinan Barudak dan seluruh kekayaan budaya Jawa Barat.